HUKUM TEKNOLOGI DAN ETIKA PROFESI
ETIKA
Etika adalah falsafah moral dan merupakan cara hidup yang benar dilihat dari sudut pandang budaya, sosial, dan agama. Etika merupakan cabang filsafat yang mempelajari pandangan-pandangan dan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan masalah kesusilaan.
Menurut Kerap bahwa pembahasan teori etika meliputi hal sebagai berikut:
- Mengembangkan perilaku, baik secara individu maupun kelompok dalam lingkungan masyarakat.
- Mengembangkan sitem sosial dan politik yang ramah terhadap lingkungan, serta mengambil keputusan dan kebijakan yang berdampak terhadap lingkungan. Lingkungan yang dimaksud dapat diartikan sebagai lingkungan sosial dalam kehidupan masyarakat, baik dalam organisasi pemerintahan maupun organisasi lainya.
Kerap juga menyatakan bahwa secara etimologis, etika berasal dari bahasa Yunani, ethos atau kebiasaan hidup yang baik, tata cara hidup yang baik, baik pada diri sendiri maupun masyarakat. Kebiasaan yang baik ini diturunkan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kebiasaan tersebut dibekukan dalm bentu kaidah, atau norma-norma yang disebarluaskan, dikenal, dipahami dan diajarkan secara lisan dalam masyarakat.
Etika menurut para ahli:
Franz Magnis Suseno menyebut etika sebagai ilmu yang mencari orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab pertanyaan yang sangat fundamental (bagaiman saya harus hidup dan bertindak).
Drs. O. P. Simorangkir berpendapat, etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berperilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.
Drs. Sidi Gajalba dalam sistematik filsafat mengatakan etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
Drs. H. Burhanudin Salam, etika adalah cabang filsafatyang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.
Martin (1993), etika didefenisikan sebagai “the discpline which can act as the performance index or reference for our control system”
Peter Singer, filusuf kontemporer dari Australia menilai kata etika dan moralitas sama artinya, karena itu dalam buku-bukunya ia menggunakan keduanya secara tertukar-tukar
Etika disebut juga fisafat moral adalah cabang filsafat yang berbicara tentang praxis (tindakan) manusia. Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia melainkan bagaimana manusia harus bertindak. Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma. Norma-norma tersebut terdiri dari norma hukum, norma moral, norma agama dan norma sopan santun. Norma hukum berasal dari hukum dan perundang-undangan, norma agama bersal dari agama, norma sopan santun berasal dari kehidupan sehari-hari, sedangkan norma moral berasal dari suara batin yang disebut juga dengan etika.
Etika dan Etiket
Etika (ethics) berarti moral, sedangkan etiket (etiquette) berarti sopan santun.
Ada dua persamaan nyata antara etika dan etiket, yaitu:
1. Mengkaji perilaku manusia.
2. Mengatur perilaku manusia secara normatif, artinya memberi norma pada perilaku dengan demikian menyatakan apa yang harus dilakukan.
Sedangkan perbedaan antara etika dan etiket adalah:
1. Etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia, artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalam sebuah kalangan tertetu. Etika tidak terbatas pada cara melakuakan sebuah perbuatan, etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri serta menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan boleh dilakuakn atau tidak.
2. Etiket hanya berlaku untuk pergaulan. Etika selalu berlaku walaupun tidak ada orang lain (barang yang dipinjam harus dikembalikan walaupun pemiliknya sudah lupa).
3. Etiket bersifat relatif, yang dianggap tidak sopan dalam sebuah kebudayaan bisa saja dianggap sopan pada kebudayaan lain. Etika jauh lebih absolut, perintah seperti “jangan berbohong”, “jangan mencuri” merupakan prinsip etika yang tidak dapat di tawar-tawar.
4. Etiket hanya memandang manusia dari segi lahiriah saja, sedangkan etika memandang manusia dari segi dalam (lahir dan batin).
Etika dan Ajaran Moral
Etika perlu dibedakan dengan ajaran moral. Ajaranmoral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang tedapat pada sekelompok manusia. Ajaran moral mengajarkan bagaiman orang harus hidup. Ajaran moral merupakan rumusan sistematik terhadap anggapan tentang apa yang bernilai serta kewajiban manusia.
Etika merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran moral. Pemikiran filsafat mempunyai 5 ciri khas yaitu:
· Rasional (mendasarkan diri pada rasio atau nalar, bersedia untuk mempersoalkan argumentasi tanpa pengecualian)
· Kritis (ingin mengerti sebuah masalah sam pai keakar-akarnya, tidak puas dengan pengertian dangkal)
· Mendasar
· Sistematik (membahas langkah demi langkah)
· Normatif (tidak sekedar melaporkan pandangan moral melainkan menyalidiki bagaimana pandangan moral yang sesungguhnya)
Oleh sebab itu biperlukan pluralisme moral karena:
1. Pandangan moral yang berbeda-beda karena adanya perbedaan suku, daerah budaya dan agama yang hidup bedampingan.
2. Mordenisasi membawa perubahan besar dalam struktur dan nilai kebutuhan masyarakat yang akibatnya menentang pandangan moral tradisional.
3. Berbagai ideologi menawarkan diri sebagai penuntun kehidupan, masing-masing dengan ajarannya sendiri tentenga bagaimana manusia harus hidup.
Moralitas
Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat diantara sekelompok manusia. Nilai moral adalah kebaikan manusia dengan manusia. Norma moral adalah tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia.
Perbedaan antara kebaikan moral dan kebaikan pada umumnya adalah kebaikan moral merupakan kebaikan manusia sebagai manusia sedangkan kebaikan pada umumnya merupakan kebaikan manusia dilihat dari satu segi saja.
Moralitas adalah sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau sopan santun. Moralitas dapat berasal dari sumber tradisi atau adat, agama atau sebuah ideologi, atau gabungan dari beberapa sumber
Etika dan Agama
Etika tidak dapat menggantikan agama. Agama merupakan hal yang tepat yang tepat untuk memberikan orientasi moral. Pemeluk agama menemukan orientasi dasar kehidupan dalam agamanya, akan tetapi agama itu memerluan keterampilan etika agar dapat memberikan orientasi bukan sekedar indoktrinasi.
Hal ini disebabkan empat alasan sebagai berikut:
1. Orang beragama mengharapkan agar ajaran agamanya rasional. Ia tidak puas mendengar bahwa Tuhan memerintahkan sesuatu, tetapi dia juga ingin mengerti mengapa Tuhan memerintahnya. Etika dapat membantu menggali rasionalitas agama.
2. Seringkali ajaran moral mengizinkan interpretasi yang saling berbeda dan bahkan bertentangan.
3. Karena perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan masyarakat maka agama menghadapi masalah moral yang secara langsung.
4. Adanya perbedaan antara etika dan ajaran agama. Etika mendasarkan diri pada argumentasi semata, sedangkan agama pada pedoman agama itu sendiri. Oleh karena itu ajaran agama hanya terbuka pada mereka yang mengakuinya sedangkan etika terbuka bagi setiap orang dari semua agama dan pandangan dunia.
Orang yang beretika tidak akan munafik, sedangkan orang yang beretiket bisa saja munafik, kenapa?
Dalam hal ini yang membuat kita bingung adalah mendefenisikan antara etika dan etiket. Keduanya berfungsi sebagai pengatur perilaku tindak manusia secara normative, artinya menekankan kepada setiap individu apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya.
Seseorang yang berpegang pada etika tidak mungkin munafik, karena seandainya munafik maka dia tidak bersikap etis, orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik. Etika bersifat absolute artinya tidak dapat ditawar-tawar lagi, walaupun tidak ada orang yang melihat dan menyaksikan orang yang beretika tidak akan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan etika. Seseorang dinilai dari kualitas moralnya atau etikanya.
Sedangkan orang yang beretiket bisa saja munafik, karena etiket hanya menandang manusia dari segi lahiriah saja, dimana menyangkut cara melakukan perbuatan manusia, menunjukkan cara yang diharapkan serta ditentukan dalam sebuah kalangan tertentu. etiket digunakan dalam pergaulan, jadi kalau tidak ada orang etiket tidak berlaku. Etiket bersifat relatif, misalnya, yang dianggap sopan disebuah kebudayaan bisa saja dianggap tidak sopan dalam kebudayaan lainnya.